JAKARTA — Di tengah tekanan daya beli masyarakat yang masih lemah, dua emiten ritel modern terbesar Indonesia — PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) — menunjukkan performa yang berbeda. Trimarketa menganalisis kinerja, strategi, dan prospek kedua emiten ini.
ACES: Rebranding AZKO dan Efisiensi di Tengah Tantangan
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) — yang sebelumnya dikenal sebagai Ace Hardware Indonesia — sedang menjalani transformasi melalui rebranding menjadi AZKO. Langkah ini menjadi salah satu katalis utama pertumbuhan perseroan.
Kinerja Keuangan 2025
| Metrik | FY 2025 | FY 2024 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Penjualan Bersih | Rp 8,64 T | Rp 8,58 T | +0,7% |
| Laba Bruto | Rp 4,12 T | Rp 4,18 T | -1,6% |
| Laba Usaha | Rp 874,7 M | Rp 1,17 T | -25,1% |
| Laba Bersih | Rp 668,73 M | Rp 892,04 M | -25% |
Meski laba bersih turun 25% pada 2025, kinerja ACES mulai membaik di semester I 2026. Pendapatan naik 6,30% YoY menjadi Rp 4,46 triliun, sementara laba bersih melesat 33,27% YoY menjadi Rp 390,30 miliar.
Strategi Ekspansi: AZKO dan NEKA
ACES menggenjot ekspansi melalui dua format toko: AZKO (format premium) dan NEKA (format mass market). Hingga Agustus 2026, perseroan telah membuka 12 gerai AZKO dan 15 gerai NEKA sepanjang tahun.
- Target AZKO: 25-30 gerai baru sepanjang 2026
- Target NEKA: 40-50 gerai baru
- Belanja modal: Dialokasikan untuk ekspansi dan infrastruktur
Prospek dan Risiko
FAC Sekuritas memproyeksikan laba bersih ACES naik 10,61% YoY menjadi Rp 740 miliar pada 2026, dengan target harga Rp 510 per saham (potensi upside 44% dari Rp 354).
Risiko utama ACES adalah pelemahan daya beli yang berkepanjangan, melemahnya rupiah yang meningkatkan biaya impor, dan persaingan ritel yang semakin ketat.
MIDI: Alfamidi dengan Laba Tumbuh 24%
PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) — pengelola jaringan ritel Alfamidi — mencatatkan kinerja yang lebih solid di tengah tekanan daya beli. Pada semester I 2026, laba bersih perseroan melonjak 24,45% YoY menjadi Rp 485,97 miliar.
| Metrik | Sem I 2026 | Sem I 2025 | YoY |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | Rp 11,24 T | Rp 10,37 T | +8,46% |
| Laba Bruto | Rp 2,90 T | Rp 2,63 T | +10,10% |
| Laba Usaha | Rp 623,36 M | Rp 509,18 M | +22,42% |
| Laba Bersih | Rp 485,97 M | Rp 390,52 M | +24,45% |
Kontribusi Segmen
- Makanan: 57,17% (Rp 6,42 T)
- Non-makanan: 27,69% (Rp 3,11 T)
- Makanan segar: 15,14% (Rp 1,70 T)
Ekspansi Gerai
MIDI menambah 75 gerai baru sepanjang semester I 2026. Total gerai Alfamidi kini mencapai 2.573 unit, terdiri dari 2.395 milik sendiri dan 178 waralaba, ditambah 86 Alfamidi Super dan 3 Midi Fresh.
Manajemen menargetkan pembukaan sekitar 200 gerai baru sepanjang 2026 dengan belanja modal Rp 1,5 triliun.
Fundamental dan Valuasi
| Metrik | Nilai |
|---|---|
| EPS (TTM) | Rp 26,55 |
| Revenue (TTM) | Rp 21,52 T |
| Net Income (TTM) | Rp 887,81 M |
| Harga Saham | ~Rp 254-260 |
Perbandingan ACES vs MIDI
| Aspek | ACES | MIDI |
|---|---|---|
| Pendapatan (Sem I 2026) | Rp 4,46 T | Rp 11,24 T |
| Laba Bersih (Sem I 2026) | Rp 390,30 M | Rp 485,97 M |
| Pertumbuhan Laba | +33,27% | +24,45% |
| Fokus | Home improvement & lifestyle | Minimarket & groceries |
| Prospek | Rebranding AZKO, ekspansi NEKA | Ekspansi 200 gerai, digitalisasi |
Kesimpulan
Baik ACES maupun MIDI menghadapi tantangan daya beli yang sama, namun merespons dengan strategi yang berbeda. ACES fokus pada rebranding dan efisiensi, sementara MIDI fokus pada ekspansi agresif dan diversifikasi produk. Keduanya memiliki fundamental yang solid, meski dengan profil risiko yang berbeda.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi beli/jual. Selalu lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.



