Siapa “Raja” Pasar Modal Indonesia 2026? Prajogo, Low Tuck Kwong, atau Budi Hartono?

TRIMARKETA.ID – JAKARTA. Kata “raja” di pasar modal Indonesia sering dipakai secara longgar. Ada “Raja Batu Bara”, “Raja Petrokimia”, bahkan “Raja Kretek”. Tapi siapa sebenarnya yang paling layak menyandang gelar itu di 2026? Jawabannya tidak tunggal, dan justru di situlah letak menariknya.

Jika kita bicara tentang kekayaan pribadi, gelar “orang terkaya” berganti-ganti sepanjang 2026. Low Tuck Kwong, Prajogo Pangestu, Budi Hartono, hingga Sukanto Tanoto silih berganti menempati posisi puncak, tergantung pergerakan harga saham dan nilai aset mereka. Forbes dan Bloomberg bahkan sering berbeda dalam metodologi, sehingga urutan bisa berubah dalam hitungan hari.

Tapi jika kita bicara tentang pengaruh di pasar modal Indonesia—khususnya dalam konteks aksi korporasi, kepemilikan saham, dan kendali atas emiten-emiten yang diperdagangkan—maka ada satu nama yang paling relevan untuk dibahas: Prajogo Pangestu.

Mengapa? Karena dialah yang paling aktif melakukan aksi korporasi di bursa sepanjang 2026, dan emiten-emiten di bawah kendalinya menjadi sorotan utama investor.

1. Peta Kekayaan 2026: Siapa di Puncak?

Mari kita mulai dengan data. Sepanjang 2026, posisi orang terkaya Indonesia berubah beberapa kali:

PeriodePosisi 1Posisi 2Posisi 3Sumber
April 2026Prajogo Pangestu (US$24,1 M)Robert Hartono (US$17,8 M)Low Tuck Kwong (US$17,6 M)Forbes
Juli 2026Sukanto Tanoto (Rp423 T)Prajogo Pangestu (Rp333 T)Low Tuck Kwong (Rp299 T)Bloomberg
September 2026Low Tuck Kwong (US$18,8 M)Prajogo Pangestu (US$17,2 M)Robert Budi Hartono (US$16,8 M)Forbes
Oktober 2026Low Tuck Kwong (US$16,5 M)Budi Hartono (US$15,2 M)Prajogo Pangestu (US$15 M)Forbes
Sumber: Forbes, Bloomberg, berbagai periode 2026

Membaca tabel ini: Tidak ada “raja” yang bertahan permanen. Kekayaan mereka sangat bergantung pada harga saham emiten yang mereka kendalikan. Prajogo, misalnya, kekayaannya turun sekitar 66% dari puncak Oktober 2025 (US$43,5 miliar) ke US$14,8 miliar pada Oktober 2026, terutama karena saham-saham Grup Barito (BREN, TPIA, CUAN) tertekan setelah dikeluarkan dari indeks MSCI pada Mei 2026.

Pelajaran untuk pembaca: Jangan terpaku pada gelar “orang terkaya”. Yang lebih penting adalah emiten apa yang mereka kendalikan dan aksi korporasi apa yang sedang berjalan.

2. Prajogo Pangestu: Sang “Raja” Aksi Korporasi

Jika ada satu nama yang paling sering muncul di berita pasar modal Indonesia sepanjang 2026, itu adalah Prajogo Pangestu. Bukan karena kekayaannya yang fluktuatif, tapi karena gurita bisnisnya di bursa.

Emiten-emiten di Bawah Kendali Prajogo

EmitenSektorKepemilikan PrajogoStatus
BRPT (Barito Pacific)Petrokimia & energi71,37%Tercatat
TPIA (Chandra Asri)Petrokimiavia BRPTTercatat
CUAN (Petrindo Jaya Kreasi)Batu bara80,41%Tercatat
BREN (Barito Renewables)Energi terbarukanvia BRPTTercatat
CDIA (Chandra Daya Investasi)Infrastruktur energivia TPIATercatat 2025
Sumber: Keterbukaan informasi dan berita

Yang membuat Prajogo relevan bagi investor ritel: Dia tidak hanya kaya. Dia aktif memperbesar kepemilikan di emiten-emitennya. Pada Agustus 2026, Prajogo memborong 51,7 juta saham CUAN senilai sekitar Rp36,68 miliar, meningkatkan kepemilikannya dari 80,37% menjadi 80,41%. Transaksi ini dilakukan tepat sebelum pengumuman review MSCI, menunjukkan bahwa dia mempertahankan kendali dan memanfaatkan volatilitas untuk akumulasi.

Tapi ada catatan penting: Kepemilikan Prajogo yang sangat tinggi (di atas 70-80%) di beberapa emiten menciptakan masalah free float yang rendah. Ini bisa membatasi likuiditas dan membuat harga saham lebih volatil. Bagi investor ritel, ini adalah risiko yang perlu dipahami.

3. Low Tuck Kwong: “Raja Batu Bara” yang Konsisten

Jika Prajogo adalah “raja aksi korporasi”, maka Low Tuck Kwong adalah “raja batu bara” yang kekayaannya paling stabil di puncak.

Sepanjang 2026, Low beberapa kali menempati posisi teratas dalam daftar Forbes, terutama pada September-Oktober 2026 ketika harga batu bara global menguat. Kekayaannya berasal dari PT Bayan Resources Tbk (BYAN), salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Yang membedakan Low dari Prajogo: Dia tidak seagresif Prajogo dalam aksi korporasi di bursa. Fokusnya adalah pada operasional tambang dan ekspansi bisnis energi terbarukan melalui Metis Energy (Singapura). Ini membuat saham BYAN lebih “murni” sebagai eksposur batu bara, tanpa kompleksitas holding company yang berlapis-lapis.

Untuk investor yang ingin eksposur batu bara: BYAN adalah salah satu pilihan paling langsung. Tapi ingat, harga batu bara sangat siklikal, dan kekayaan Low yang fluktuatif adalah cerminan dari siklus tersebut.

4. Budi Hartono: “Raja Perbankan” yang Tenang

Nama Budi Hartono (dan keluarganya) mungkin tidak sevokal Prajogo atau Low dalam berita akuisisi, tapi kekayaannya paling stabil karena bersumber dari BCA dan Djarum.

Mengapa ini penting? BCA adalah salah satu bank dengan kualitas aset terbaik di Indonesia, dan Djarum adalah produsen rokok kretek terbesar. Kombinasi ini memberikan arus kas yang stabil dan dividen yang konsisten. Budi tidak perlu melakukan aksi korporasi agresif untuk menjaga kekayaannya—cukup dengan memiliki bisnis yang sudah matang.

Untuk investor konservatif: Saham BBCA (Bank Central Asia) adalah proxy untuk “kerajaan” Budi Hartono. Fundamentalnya kuat, likuiditasnya tinggi, dan dividennya konsisten. Ini adalah pilihan yang lebih “aman” dibandingkan saham-saham yang bergantung pada aksi korporasi.

5. Siapa yang Layak Disebut “Raja” untuk Anda?

Jawabannya tergantung pada apa yang Anda cari:

Jika Anda mencari…“Raja” yang relevanEmiten yang perlu dipantau
Aksi korporasi & momentumPrajogo PangestuCUAN, BRPT, BREN, TPIA
Eksposur komoditas (batu bara)Low Tuck KwongBYAN
Stabilitas & dividenBudi HartonoBBCA
Diversifikasi pangan & ritelAnthoni SalimINDF, ICBP, AMRT
Analisis Trimarketa

Catatan penting: Artikel ini bukan rekomendasi untuk membeli saham-saham tersebut. Setiap emiten memiliki risiko masing-masing, dan kepemilikan “raja” tidak menjamin kinerja saham yang baik. Prajogo, misalnya, kekayaannya turun 66% dalam setahun—sebuah pengingat bahwa bahkan “raja” pun bisa kehilangan mahkota mereka.

Disclaimer: Artikel ini adalah analisa informatif, bukan rekomendasi investasi. Data dapat berubah setelah publikasi. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berizin OJK.

Related Post