TRIMARKETA.ID – JAKARTA. BBRI adalah saham yang paling sering diperdagangkan di bursa Indonesia. Sepanjang periode 19–22 Oktober 2026, rata-rata nilai transaksi harian BBRI mencapai Rp2,04 triliun dengan frekuensi 99.287 kali per hari—tertinggi di antara semua saham. Trader menyukai BBRI karena likuiditasnya yang tebal, pergerakannya yang responsif terhadap sentimen pasar, dan valuasinya yang kini berada di level terendah dalam lima tahun.
Tapi apakah “murah” berarti “menarik”? Mari kita bedah.
1. Kinerja Fundamental: Laba Tumbuh, Tapi Kualitas Aset Jadi Sorotan
| Indikator | Semester I 2026 | Perubahan YoY |
|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp31,2 triliun | +17,5% |
| Pendapatan Bunga Bersih | Rp81,18 triliun | +10,13% |
| Pertumbuhan Kredit | Rp1.646 triliun | +16,2% |
| NPL | 2,9% | Turun |
| NPL Coverage | 180% | Naik |
| LaR | 9,2% | Turun |
| LDR | 88,3% | — |
| ROA | 2,5% | — |
Membaca angka: Laba tumbuh 17,5% adalah angka yang solid. Pertumbuhan kredit 16,2% melampaui RBB. NPL turun ke 2,9%, dan coverage naik ke 180%. Ini menunjukkan bahwa BRI tidak hanya tumbuh, tapi juga memperbaiki kualitas aset.
Tapi ada catatan: Pertumbuhan kredit yang agresif di tengah perlambatan ekonomi menimbulkan pertanyaan tentang kualitas kredit ke depan. LaR di 9,2% masih cukup tinggi, meski turun. Trader perlu memantau apakah perbaikan ini berlanjut atau hanya sementara.
2. Valuasi: PBV 1,25x, PER 7,3x, Dividen Yield 10%
| Metrik | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| PBV | 1,25x | Terendah dalam 5 tahun |
| PER | ~7,3x | 2,2–2,6 standar deviasi di bawah rata-rata historis |
| Dividend Yield | ~7–10% | Payout ratio tinggi |
| Harga Terendah 52 Minggu | Rp2.460 | Level terendah 5 tahun |
| Target Konsensus 12 Bulan | Rp3.722 | Upside +27,91% |
Membaca valuasi: PBV 1,25x dan PER 7,3x adalah sangat murah untuk bank dengan ROE yang masih positif dan laba yang tumbuh. Dividend yield 7–10% adalah yang tertinggi di antara bank-bank besar. Analis JP Morgan menaikkan rekomendasi menjadi Overweight dengan target Rp3.400, dan Maybank Sekuritas memberi target Rp4.900.
Tapi jangan buru-buru: Valuasi murah bisa menjadi value trap jika ada masalah struktural. Dalam kasus BBRI, masalah itu adalah kualitas kredit mikro.
3. Mengapa Trader Suka BBRI?
| Alasan | Penjelasan |
|---|---|
| Likuiditas | Nilai transaksi harian ~Rp2 triliun, frekuensi ~99.000 kali |
| Volatilitas Terukur | Pergerakan harga responsif terhadap sentimen, tapi tidak liar |
| Sentimen BUMN | Danantara masuk pasar, memberi katalis positif untuk saham BUMN |
| Dividen | Yield 7–10% menarik bagi investor income |
| Valuasi | PBV 1,25x memberi margin of safety |
4. Risiko yang Wajib Dipahami Trader
| Risiko | Penjelasan |
|---|---|
| Kredit Mikro | Segmen mikro adalah sumber risiko utama. Jika gagal bayar meningkat, laba tertekan |
| Tekanan NIM | Kenaikan cost of fund bisa menekan margin bunga bersih |
| Sentimen Sektor | Jika IHSG terkoreksi, BBRI bisa ikut turun meski fundamental solid |
| Target Analis Beragam | Macquarie justru memberi rating Jual dengan target Rp2.200 |
Catatan penting: Macquarie memberi rating Jual dengan target Rp2.200, jauh di bawah konsensus. Ini menunjukkan bahwa tidak semua analis setuju bahwa BBRI murah.
5. Kesimpulan: Saham “Murah” dengan Katalis Jelas, Tapi Butuh Kesabaran
Rating: 7/10 — Value Play dengan Likuiditas Tinggi
BBRI adalah saham yang cocok untuk trader yang ingin eksposur ke perbankan besar dengan likuiditas tebal, atau investor yang mencari dividen yield tinggi dan percaya pada pemulihan kredit mikro. Valuasi di PBV 1,25x dan PER 7,3x memberikan margin of safety, dan target konsensus Rp3.722 memberi upside ~28%.
Tapi: Jangan beli karena “murah” saja. Beli karena Anda percaya bahwa kualitas kredit mikro akan membaik dan NIM akan stabil. Jika tidak, BBRI bisa menjadi value trap.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif, bukan rekomendasi investasi. Selalu lakukan riset mandiri.



