JAKARTA — PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menjadi pusat perhatian pasar setelah aksi korporasi besar-besaran yang melibatkan Hashim Djojohadikusumo. Pada 19 Oktober 2026, perusahaan investasi Hashim, PT Investasi Sukses Bersama, menjual 1.415.652.000 saham WIFI dengan harga Rp 2.870 per lembar, jauh di atas harga pasar saat itu yang berada di level Rp 1.025. Total dana yang dikantongi mencapai Rp 4,06 triliun [citation:3][citation:9].
Meski demikian, di balik drama kepemilikan saham ini, WIFI menyimpan cerita fundamental yang sangat menarik. Artikel ini akan membedah WIFI dari sisi bisnis, keuangan, dan prospeknya.
Ringkasan Data Fundamental & Harga WIFI
| Metrik | Nilai / Keterangan |
|---|---|
| Harga Saham (Ref) | ~Rp 1.025 |
| Harga Transaksi Hashim | Rp 2.870 (Premium) |
| Nilai Transaksi | Rp 4,06 Triliun |
| Pendapatan Sem I-2026 | Rp 1,57 T (+206% YoY) |
| Pendapatan Telekomunikasi | Rp 1,28 T (+357% YoY) |
| EBITDA Sem I-2026 | Rp 948,9 M (Margin 60,4%) |
| Laba Bersih Sem I-2026 | Rp 496,8 M (+118% YoY) |
| Kas & Setara | Rp 8,29 Triliun |
| Net Debt/EBITDA | 0,85x (Sehat) |
| Pelanggan FTTH | 1,85 Juta |
| Pelanggan FWA | 513.000 |
| Target Pelanggan 2026 | 3 Juta |
1. Analisis Makro: Infrastruktur Digital di Tengah Krisis
WIFI bergerak di bidang infrastruktur digital, khususnya penyediaan jaringan internet berbasis serat optik (FTTH) dan akses nirkabel (FWA). Bisnis ini sangat prospektif di Indonesia, mengingat penetrasi internet yang masih terus tumbuh dan kebutuhan data center yang meledak seiring adopsi AI.
Meskipun pasar saham sedang dilanda badai MSCI, bisnis infrastruktur digital WIFI tidak terpengaruh secara fundamental. Permintaan akan koneksi internet cepat terus meningkat, dan WIFI berada di posisi yang tepat untuk memanfaatkannya.
2. Katalis Bisnis: Ekspansi FTTH dan FWA
WIFI mengoperasikan bisnisnya melalui dua anak usaha: Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) yang mengoperasikan Fixed Wireless Access (FWA) berbasis 5G, dan Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE) yang menjalankan bisnis Fiber-to-the-Home (FTTH). WEAVE juga mengelola jaringan serat optik sepanjang lebih dari 8.000 kilometer di sepanjang jalur kereta api [citation:4].
Hingga Semester I 2026, WIFI memiliki 1,85 juta pelanggan FTTH dan 513.000 pelanggan FWA. Perusahaan menargetkan total pelanggan melampaui 3 juta hingga akhir 2026, dengan cakupan jaringan FTTH mencapai 3,5 juta rumah dan 5.500 titik layanan FWA [citation:4].
3. Analisis Fundamental: Lonjakan Laba 118%
Kinerja keuangan WIFI pada Semester I 2026 sangat impresif:
- Pendapatan: Rp 1,57 triliun, tumbuh 206% YoY. Pendapatan telekomunikasi melonjak 357% menjadi Rp 1,28 triliun (82% kontribusi) [citation:4].
- EBITDA: Rp 948,9 miliar, tumbuh 117% YoY dengan margin 60,4% [citation:4].
- Laba Bersih: Rp 496,8 miliar, tumbuh 118% YoY [citation:4].
Dari sisi likuiditas, WIFI mengakhiri Semester I 2026 dengan kas sebesar Rp 8,29 triliun dan rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 0,85 kali. Manajemen menargetkan margin EBITDA 50-60% sepanjang 2026 [citation:4].
4. Drama Kepemilikan: Hashim Jual Premium
Penjualan saham oleh Hashim di harga Rp 2.870 per lembar, jauh di atas harga pasar Rp 1.025, menunjukkan bahwa ada pihak yang sangat yakin dengan prospek WIFI. Pembelinya adalah PT Sinergi Graha Kapital (SGK), yang sebelumnya tidak memiliki saham WIFI, kini menguasai 26,67% dengan tujuan investasi jangka panjang [citation:3][citation:15].
Meski Hashim mengurangi kepemilikannya, ia masih tercatat sebagai pengendali WIFI melalui ISB yang memegang 27,756% saham. Direktur WIFI, Shannedy Ong, menegaskan bahwa transaksi ini adalah penataan struktur permodalan dan tidak berdampak signifikan terhadap operasional [citation:15].
5. Risiko: Eksekusi dan Penundaan Pendapatan
Salah satu risiko utama WIFI adalah potensi penundaan pengakuan pendapatan. WIFI memberikan periode gratis selama tiga bulan bagi pelanggan baru, termasuk pelanggan yang diperoleh melalui kampanye Piala Dunia. Kebijakan ini berpotensi menunda pengakuan pendapatan, sehingga kontribusi penuhnya diperkirakan baru terasa pada 2027 [citation:4].
Risiko lainnya adalah kecepatan pembangunan jaringan. Realisasi target ekspansi tetap bergantung pada kemampuan perusahaan mengeksekusi pembangunan infrastruktur sesuai rencana [citation:4].
6. Strategi Investasi Trimarketa
WIFI adalah saham growth dengan fundamental yang sangat kuat. Lonjakan laba 118% dan margin EBITDA di atas 60% menunjukkan bahwa bisnis ini sangat sehat. Namun, volatilitas harga sahamnya tinggi, terutama setelah drama kepemilikan Hashim. Bagi investor jangka panjang yang percaya pada masa depan infrastruktur digital Indonesia, WIFI bisa menjadi pilihan menarik. Namun, tunggu koreksi dan pastikan untuk tidak membeli saat euforia sedang memuncak.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi beli/jual. Selalu lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.



