JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (26/10/2026). IHSG melemah 1,22% atau 66,16 poin ke level 5.373,09, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di 5.435,64 [citation:26][citation:27].
Meskipun indeks secara keseluruhan tertekan, terdapat dinamika yang sangat menarik di jajaran saham individu. Sebanyak 520 saham melemah, namun 161 saham justru menguat, dan 112 saham stagnan [citation:27]. Artikel ini akan membedah 10 saham yang menjadi top gainers dan top losers hari ini, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik pergerakan ekstrem mereka.
1. Tabel Top Gainers: Siapa yang Paling Cuan?
Berikut adalah lima saham dengan kenaikan tertinggi pada perdagangan hari ini:
| Kode | Perusahaan | Harga | Perubahan |
|---|---|---|---|
| KREN | Quantum Clovera Investama | Rp 19 | +26,67% |
| ANDI | Andira Agro | Rp 35 | +25,00% |
| TMPO | Tempo Intimedia | Rp 189 | +19,62% |
| BTEK | Bumi Teknokultura Unggul | Rp 13 | +18,18% |
| MKNT | Mitra Komunikasi Nusantara | Rp 7 | +16,67% |
1.1 KREN: Lonjakan di Tengah Fundamental yang Menantang
PT Quantum Clovera Investama Tbk (KREN) melesat 26,67% ke Rp 19. KREN adalah perusahaan investasi digital yang bergerak di berbagai sektor, termasuk teknologi, keuangan, dan energi bersih [citation:1].
Namun, di balik lonjakan harga ini, fundamental KREN masih menghadapi tantangan. Berdasarkan data Simply Wall St, KREN mencatat kerugian bersih (net loss) sebesar Rp 133 miliar (TTM) dengan margin negatif 3,64% [citation:8]. ROE-nya sangat negatif, mencapai -546,61% [citation:1]. Harga saham KREN saat ini masih jauh di bawah harga IPO-nya, dan secara year-to-date masih turun signifikan. Lonjakan hari ini lebih bersifat spekulatif dan teknikal, bukan didorong oleh perbaikan fundamental.
1.2 ANDI: Spekulasi di Emiten Perkebunan yang Merugi
PT Andira Agro Tbk (ANDI) naik 25% ke Rp 35. ANDI adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berbasis di Sumatera Selatan [citation:2].
Sayangnya, kinerja keuangannya sedang tidak baik. Pada tahun buku 2025, ANDI mencatat penjualan Rp 246,43 miliar, tetapi mengalami kerugian bersih (net loss) sebesar Rp 40,96 miliar. Kerugian ini membengkak dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 23,05 miliar [citation:2]. Lonjakan harga ANDI hari ini kemungkinan besar didorong oleh spekulasi jangka pendek atau aksi bandarmology, mengingat likuiditasnya yang tipis.
1.3 TMPO: Emiten Media dengan Kinerja yang Perlu Dicermati
PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) melonjak 19,62% ke Rp 189. TMPO adalah perusahaan media yang menerbitkan Majalah Tempo dan berbagai produk jurnalistik lainnya [citation:3].
Meskipun lonjakan harga ini menarik perhatian, investor perlu mencermati kinerja keuangannya. TMPO memiliki struktur kepemilikan yang cukup unik, dengan PT Grafiti Pers sebagai pemegang saham terbesar (256,96 juta saham) dan Yayasan Tempo 21 Juni 1994 (181,32 juta saham) [citation:3]. Lonjakan hari ini bisa jadi terkait dengan sentimen berita atau aksi korporasi tertentu yang belum diumumkan secara luas.
1.4 BTEK: Optimisme Pemulihan Kakao
PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) naik 18,18% ke Rp 13. BTEK bergerak di industri pengolahan kakao melalui anak usahanya, PT Golden Harvest Cocoa Indonesia [citation:11].
Meskipun pendapatan BTEK anjlok 88,67% pada tahun 2025 menjadi Rp 72,02 miliar [citation:11], manajemen optimistis bahwa industri kakao akan pulih pada tahun 2026. Mereka berencana fokus pada pasar ekspor dan produk kakao premium [citation:4]. Lonjakan harga hari ini mungkin mencerminkan harapan pasar terhadap pemulihan tersebut, meskipun risikonya masih sangat tinggi.
1.5 MKNT: Saham dengan Fundamental yang Sangat Menantang
PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT) naik 16,67% ke Rp 7. MKNT bergerak di bidang distribusi alat komunikasi.
Namun, data keuangannya sangat memprihatinkan. Menurut laporan yang dipublikasikan di IDX, pendapatan MKNT turun drastis dari Rp 1,59 triliun pada tahun 2023 menjadi hanya Rp 237.876 pada tahun 2024, dan Rp 3,68 miliar pada tahun 2025. Bahkan, per 31 Maret 2026, MKNT tidak mencatat pendapatan sama sekali [citation:5]. Kas dan banknya hanya tersisa Rp 1,158 juta [citation:5]. Lonjakan harga MKNT hari ini adalah murni spekulasi ekstrem pada saham penny stock yang fundamentalnya sudah rusak.
2. Tabel Top Losers: Siapa yang Paling Terpukul?
Sementara itu, berikut adalah lima saham dengan penurunan terdalam:
| Kode | Perusahaan | Harga | Perubahan |
|---|---|---|---|
| TGUK | Platinum Wahab Nusantara | Rp 81 | -10,00% |
| GRPM | Graha Prima Mentari | Rp 117 | -9,30% |
| SOFA | Solusi Environment Asia | Rp 178 | -8,72% |
| MGLV | NexAI Digital Infrastruktur | Rp 11.350 | -7,72% |
| VKTR | VKTR Teknologi Mobilitas | Rp 372 | -7,00% |
2.1 TGUK: Transformasi Bisnis yang Belum Membuahkan Hasil
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) turun 10% ke Rp 81. TGUK sedang dalam proses transformasi bisnis dari makanan dan minuman ke bisnis frozen meat dan frozen food [citation:6].
Meskipun pada Semester I-2026 TGUK berhasil membukukan laba bersih Rp 2,50 miliar (berbalik dari rugi Rp 8,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu) [citation:13], pasar tampaknya masih wait and see. Penurunan hari ini bisa jadi karena aksi ambil untung setelah kenaikan sebelumnya, atau kekhawatiran tentang keberlanjutan kinerja positif tersebut.
2.2 GRPM: Distributor Coca-Cola yang Tertekan
PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM) turun 9,30% ke Rp 117. GRPM adalah distributor resmi Coca-Cola di Indonesia dengan sekitar 35.000 gerai ritel [citation:16].
Meskipun bisnisnya terdengar menjanjikan, pendapatan GRPM turun 11% menjadi Rp 533,1 miliar pada kuartal III-2025 [citation:28]. Penurunan hari ini mungkin mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pelemahan daya beli konsumen yang mempengaruhi penjualan minuman. Namun, GRPM masih membidik pertumbuhan 10% pada 2026 dengan mengandalkan momentum Lebaran dan ekspansi area distribusi.
h3>2.3 SOFA: Transformasi ke Waste-to-Energy yang Masih BerdarahPT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) turun 8,72% ke Rp 178. SOFA sedang bertransformasi dari bisnis furnitur ke sektor waste-to-energy (WtE) melalui anak usahanya, PT Ananta Energi Asia [citation:23].
Namun, transformasi ini masih membutuhkan waktu dan dana besar (Rp 131 miliar hingga kuartal II-2028). Sementara itu, SOFA masih mencatat rugi bersih Rp 5,69 miliar pada Semester I-2026 [citation:23]. Penurunan hari ini mencerminkan ketidaksabaran pasar terhadap proses transformasi yang panjang dan penuh ketidakpastian ini.
2.4 MGLV: Raksasa Data Center AI yang Terkoreksi
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) turun 7,72% ke Rp 11.350. MGLV adalah salah satu saham top performer tahun ini, melonjak lebih dari 1.400% sejak awal 2026 setelah bertransformasi menjadi pemain data center AI [citation:18].
Koreksi hari ini wajar mengingat kenaikan sebelumnya sudah sangat ekstrem. Analis BRI Danareksa menilai harga saham MGLV saat ini sudah mencerminkan valuasi kapasitas data center 102 MW pada 2027 [citation:18]. Katalis berikutnya akan bergantung pada kecepatan penambahan kapasitas dari Zankore (perusahaan patungan ISAT).
2.5 VKTR: Pionir EV yang Tertekan
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) turun 7,00% ke Rp 372. VKTR adalah pionir kendaraan listrik komersial di Indonesia [citation:19].
Meskipun kinerja keuangannya positif (penjualan Semester I-2026 tumbuh 56% YoY menjadi Rp 648 miliar, laba bersih Rp 10 miliar) [citation:19], saham VKTR tertekan. Ini bisa jadi karena aksi ambil untung atau kekhawatiran terhadap perlambatan adopsi EV di Indonesia.
3. Kesimpulan: Pelajaran dari Market Movers Hari Ini
Dari 10 saham di atas, terlihat pola yang sangat jelas: lonjakan harga seringkali tidak berkorelasi dengan fundamental. KREN, ANDI, dan MKNT melesat meskipun kinerja keuangannya buruk atau bahkan merugi. Sebaliknya, VKTR yang fundamentalnya membaik justru terkoreksi.
Bagi investor jangka panjang, hindari saham-saham yang naik hanya karena spekulasi. Fokuslah pada emiten dengan bisnis yang jelas, kinerja keuangan yang sehat, dan valuasi yang wajar. Market movers harian bisa menjadi sumber informasi, tetapi bukan dasar utama untuk mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi beli/jual. Selalu lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.



