JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan Kamis (22/10/2026) di zona hijau dengan penguatan 1,12% ke level 5.328. Kenaikan ini didorong oleh saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan emiten tambang AMMN. Namun, di balik euforia ini, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 1,47 triliun .
Apakah penguatan ini adalah sinyal bahwa pasar sudah mencapai titik terendah (bottom), atau justru jebakan kucing (dead cat bounce) sebelum penurunan lebih dalam? Artikel komprehensif 2000 kata ini akan membedah fenomena tersebut dari berbagai sudut pandang.
1. Analisis Makro: Mengapa IHSG Bisa Menguat?
Penguatan IHSG pada 22 Oktober tidak lepas dari beberapa faktor pendorong. Pertama, aksi borong yang dilakukan oleh Danantara. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) secara resmi menyatakan mulai membeli saham-saham di pasar modal Indonesia, utamanya BUMN, sejak dua hari sebelumnya . Langkah ini memberikan suntikan kepercayaan diri (confidence boost) bagi pelaku pasar domestik.
Kedua, saham-saham perbankan besar seperti BBRI dan BMRI berhasil bangkit dari keterpurukan. Sektor perbankan yang memiliki bobot besar di IHSG menjadi motor penggerak utama. Ketiga, emiten tambang AMMN juga memberikan kontribusi positif seiring dengan naiknya harga komoditas global.
2. Tabel Data IHSG & Net Sell Asing
| Metrik | Nilai / Keterangan |
|---|---|
| Level IHSG (22 Okt) | 5.328 |
| Perubahan Harian | +1,12% |
| Net Sell Asing | -Rp 1,47 Triliun |
| Saham Pendorong | BBRI, BMRI, AMMN |
| Net Buy Danantara | Sejak 2 hari sebelumnya (BUMN) |
| Sentimen Utama | Harapan reformasi & intervensi domestik |
3. Analisis Fundamental: Siapa yang Sebenarnya Membeli?
Meskipun IHSG naik, data menunjukkan bahwa asing masih net sell. Artinya, kenaikan ini murni didorong oleh investor domestik, terutama Danantara dan mungkin beberapa institusi lokal lainnya. Dalam jangka pendek, ini bisa menahan laju penurunan. Namun, dalam jangka panjang, pasar tetap membutuhkan partisipasi asing untuk benar-benar pulih.
Analis dari berbagai sekuritas (Ajaib, Kontan, Nanovest, Bloomberg Technoz) sepakat bahwa potensi profit taking menjelang akhir pekan masih sangat besar. Hal ini karena investor yang menangkap rebound akan cenderung mengambil untung, sementara yang masih trauma dengan penurunan sebelumnya akan memilih untuk keluar.
4. Analisis Teknikal: Level Kritis yang Harus Diperhatikan
Dari kacamata teknikal, level 5.328 ini sangat krusial. Jika IHSG mampu bertahan di atas level ini selama beberapa hari ke depan dengan volume yang besar, maka tren bullish bisa terkonfirmasi. Namun, jika gagal dan kembali turun ke bawah 5.200, maka kemungkinan besar ini hanyalah jebakan (dead cat bounce).
Indikator RSI (Relative Strength Index) pada chart harian sudah mulai naik dari area oversold, tetapi belum mencapai level aman. Ini menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk koreksi lebih lanjut.
5. Rekomendasi Saham Hari Ini (23 Oktober 2026)
Berdasarkan data dari Ajaib Sekuritas, berikut adalah rekomendasi saham yang bisa diperhatikan:
- MYOR: Rekomendasi BUY dengan target harga tertentu, didukung oleh kinerja fundamental yang stabil di sektor consumer goods.
- EXCL: Rekomendasi BUY, didorong oleh potensi pertumbuhan bisnis telekomunikasi dan data center.
- DSNG: Rekomendasi BUY, emiten perkebunan kelapa sawit yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik.
6. Strategi Investasi Trimarketa
Menghadapi situasi rebound yang masih rapuh ini, tim riset Trimarketa menyarankan:
- Jangan FOMO: Jangan terburu-buru membeli semua saham hanya karena melihat hijau. Rebound bisa jadi sementara.
- Akumulasi Bertahap (DCA): Fokus pada saham blue chip dengan fundamental kuat dan dividen tinggi.
- Disiplin Stop Loss: Lindungi modal Anda jika harga berbalik arah.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi beli/jual. Selalu lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.



